Langsung ke konten utama

Menyambut Fajar Media Massa

Contoh-contoh media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah kini telah akrab di kalangan masyarakat. Selaras dengan definisinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media massa merupakan sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Sedangkan media cetak ialah sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara berkala.

Media massa memulai sejarahnya semenjak manusia mengenal aksara, dengan kata lain media cetak merupakan yang pertama di dunia. Menurut bukti sejarah yang ada, aktivitas jurnalistik tertua ada pada zaman romawi kuno dengan adanya tradisi menuliskan peraturan-peraturan negara dalam lembaran-lembaran dan diletakkan di tempat-tempat yang mudah dilihat dan dibaca oleh masyarakat. Lembaran-lembaran yang berisi peraturan ini disebut Acta Diurna, sedangkan tempat pemasangan lembaran itu disebut Forum Romanum (Ermanto, 2005:24). Acta Diurna, yang berarti catatan harian ini merupakan cikal bakal surat kabar. Berawal dari catatan proses dan keputusan hukum, kemudian isi dari catatan harian ini berkembang menjadi pemberitahuan publik dan informasi sehari-hari seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Di Indonesia mulai mengenal media cetak dengan beredarnya surat kabar di masa Kolonial Belanda. Surat kabar yang beredar saat itu berbahasa Belanda dengan konten seputar kehidupan di Eropa. Berikutnya di tahun 1856 Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya hadir sebagai promotor terbitnya surat kabar berbahasa Melayu lainnya. Sejak saat itu, media cetak lain seperti majalah dan tabloid mulai menjadi variasi dalam pemenuhan kebutuhan informasi bagi masyarakat.

Bila dibandingkan dengan media massa lain, media cetak memiliki ciri khasnya sendiri. Frekuensi publikasi dari media cetak dapat dikatakan lebih teratur karena penerbitan pada umumnya dilakukan secara berkala, yakni harian, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Dalam proses pengerjaannya, media cetak menerapkan manajemen redaksi yang konsisten. Diawali dengan penggalian ide, manajemen redaksi dilanjutkan dengan penentuan tema dan sudut pandang berita. Kemudian proses berlanjut dengan diadakannya rapat redaksi, dimana nantinya akan dihasilkan Term of Reference (TOR) yang terdiri dari outline, target operation, dan draft pertanyaan. Berlanjut pada tahap reportase, di sini para reporter diterjunkan langsung ke lapangan demi memenuhi informasi yang dibutuhkan dalam tahap berikutnya yakni penulisan. Setelah selesai, tulisan masih harus diproses dalam tahap editing. Tulisan-tulisan yang telah selesai diedit ini nantinya akan memasuki tahap layouting dan kemudian disusul dengan cek display. Terakhir, tulisan akan siap untuk naik cetak dan diterbitkan.

Sepanjang perjalanannya, loyalitas pembaca di Indonesia tertuju pada media cetak, khususnya surat kabar. Konten-konten berita yang dinilai premium serta aktual ternyata mampu merebut perhatian masyarakat di berbagai kalangan. Terbit setiap pagi, surat kabar mulai menciptakan sebuah budaya baru bagi masyarakat Indonesia. Surat kabar selalu setia terhimpit di lengan-lengan pejalan kaki, bersanding dengan secangkir teh manis di pagi hari, atau pun tergeletak lusuh di meja-meja warung pertanda intens terjamah. Bahkan surat kabar pun turut menemani para pembaca setianya sampai pada kegiatan rutin kamar mandi yang dilakukan di pagi hari. Surat kabar seolah telah melekat erat pada kehidupan masyarakat Indonesia.

Di era serba modern kini, media cetak seperti surat kabar mulai mendapat pengaruh yang cukup berarti dari perkembangan teknologi, salah satunya ialah menurunnya minat para pembaca. Kini masyarakat Indonesia dirasa telah menemukan pendamping lain di kesehariannya. Surat kabar tak lagi mampu menyita perhatian masyarakat seperti dahulu. Berbagai macam bentuk gadget yang merupakan wujud dari perkembangan teknologi saat ini lebih mampu menghipnotis masyarakat. Kecanggihan gadget semakin menggiurkan dengan adanya sambungan internet. Tak hanya informasi, komunikasi dan hiburan pun sudah dapat dengan mudah dirasakan. Kemudahan-kemudahan yang disajikan ini membuat masyarakat memiliki kecenderungan atas hal-hal yang instan, termasuk dalam mengakses sebuah berita. Masyarakat tak lagi dapat bersabar menanti berita hangat hari ini pada esok pagi. Cukup dengan internet, pembaca dapat bersantai di kamar atau teras rumah dan dengan satu klik mampu menemukan beragam berita yang diinginkan.

Dampak dari perkembangan teknologi ini ternyata turut andil dalam menurunnya jumlah pengiklan pada media cetak. Pembaca dan pengiklan merupakan sumber kehidupan bagi media cetak. Jumlah pembaca yang berangsur menurun tentunya berbanding lurus dengan jumlah pengiklan pada suatu media cetak. Pemasangan iklan yang dulunya dirasa menjanjikan, kini mulai dipertimbangkan kembali.

Kehilangan bagian terpenting membuat media cetak mau tak mau mengambil tindakan untuk mempertahankan eksistensinya. Inovasi dilakukan dengan menyesuaikan perkembangan teknologi yang sedang terjadi. Media Dalam Jaringan (Daring) atau yang lebih akrab dikenal dengan media online akhirnya dijadikan solusi. Metode ini memanfaatkan internet sebagai perantara dalam menyajikan informasi bagi khalayak ramai.

Dalam praktiknya, media daring memiliki berbagai perbedaan bila dibandingkan dengan media cetak, khususnya dari segi konten.

JawaPos.com - Polisi menangkap tiga orang di wilayah Depok, Jawa Barat, Jumat (15/1) pagi karena diduga punya kaitan dengan serangan teror di Sarinah. Ketiganya adalah Saiful, Iro, dan Sudirman.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes M Iqbal mengatakan, ketiga orang itu ditangkap di Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Depok. “Yang mimpin penangkapan Pak Krishna Murti (Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya, red),” kata Iqbal.
Selanjutnya, ketiga pelaku ini langsung menjalani pemeriksaan intensif di Mapolsek Cimanggis. Polisi meyakini ketiga pelaku itu ada kaitan dengan teror di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1).

Namun, Iqbal belum menjelaskan barang-barang yang disita dari penangkapan itu. Sebab, polisi masih di lapangan. (elf/JPG)

Contoh di atas menunjukkan bahwa konten berita pada media daring memang dibuat cenderung lebih singkat. Berbeda dengan media cetak yang telah lebih dulu dikenal dengan pembahasan-pembahasannya yang mendalam terkait konten berita. Tak hanya itu, kekurangan pun masih terasa dari segi keredaksionalan yang digunakan oleh media daring. Tak jarang pula ditemukan kesalahankesalahan penulisan dalam sebuah berita. Dalam penulisan judul misalnya, media daring memiliki cara yang berbeda dengan media cetak. Contohnya saja salah satu judul berita yang diterbitkan detik.com, “Wow! PLN Raup Untung Rp 2,8 Triliun dalam 3 Bulan”. Penggunaan bahasa dari media daring yang dirasa informal ini ditakutkan akan memberi kesan buruk di mata para pembaca terkait kapasitasnya sebagai sebuah media penyedia informasi.

Dalam penggarapannya, media daring menitikberatkan kecepatan sebagai nilai unggulnya dengan cara menerbitkan beritanya hanya dalam hitungan jam. Hal ini sukses mengalahkan surat kabar yang sebelumnya dinilai memiliki aktualitas tinggi dengan penerbitan di setiap pagi. Surat kabar dalam penerbitannya melalui proses manajemen redaksi yang panjang demi memperoleh berita berkualitas. Verifikasi terkait informasi yang diperoleh juga selalu dilakukan dengan tepat agar berita nantinya dapat terjamin akurasinya. Sistem pengeditan berita yang panjang dan teliti turut menjadi pembanding antara media cetak dengan media daring yang terfokus agar berita dapat segera diterbitkan.

Media-media daring saat ini memang berlomba untuk menjadi yang pertama dalam menerbitkan suatu berita demi meraih loyalitas para pembaca. Hal ini memang bukan suatu kekeliruan karena sudah menjadi perbedaan yang dimiliki oleh media daring. Akan tetapi, berita-berita yang diproses serba cepat ini sesungguhnya memiliki dampaknya sendiri. Pemrosesan berita yang relatif lebih singkat nantinya dapat menurunkan kualitas dari sebuah tulisan. Konten berita yang dibuat terlampau minim ini membuat pembaca hanya mengetahui sebuah berita dari kulit luarnya saja. Media-media daring sepertinya lebih mengutamakan agar para pembacanya mengetahui sebuah peristiwa dengan segera, bukannya memahami apa yang sedang terjadi. Tak cukup sampai di situ, gaya penulisan yang tak jarang mengalami kesalahan serta penggunaan bahasa informal justru dapat membuat para pembaca menganggap bahwa media tidak serius atau bahkan tidak memahami kaidah bahasa. Kondisi seperti ini yang nantinya dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media daring.

Informasi berkualitas merupakan hal yang dibutuhkan para pembaca di Indonesia. Kehadiran media daring pada era modern ini seharusnya mampu mencerdaskan masyarakat dengan segala kemudahan akses yang sudah ada. Memiliki jumlah pembaca yang lebih banyak dari media cetak, seharusnya mampu membuat media daring untuk terus membenahi diri. Inovasi yang dilakukan oleh mediamedia ini hendaknya tak hanya melulu mengenai bagaimana mendapatkan banyak pembaca dan mengedepankan kecepatan, namun juga menyediakan informasi yang berkualitas. Kemudian setelah melewati segala perbaikan nantinya, media-media daring diharapkan mampu mendapatkan kepercayaan penuh dari para pembaca. Karena tak dapat dipungkiri bahwa dengan seiring berjalannya waktu, teknologi akan terus mengalami perkembangan. Masyarakat harus mulai dibiasakan dengan media daring, karena bukan hal yang mustahil bila suatu saat nanti media ini yang akan menjadi primadona seperti media cetak di masanya.

Dimuat dalam Majalah Indikator 48 pada 2016 http://lpmindikator.feb.ub.ac.id/?p=609

Komentar