Wirausaha rupanya turut berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Mengutip dari republika.co.id (27
/08/15), bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih
dari 10% dari populasi penduduknya.
Dr. Sumiati, SE., CSRS. memaparkan
bahwa kemampuan mencetak pelaku
usaha atau pebisnis di Indonesia saat ini
hanya sekitar 1,65% dari total penduduk
yang ada. “Singapura hampir 7% dari
total penduduk, kemudian Malaysia itu
5%. Thailand kalau tidak salah sekitar
2,5%,” tutur Ketua Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB). Indonesia
masih tertinggal bila dibandingkan
dengan negara tetangganya.
Kewirausahaan kini tengah menjadi salah satu wujud dari pertumbuhan
keilmuan baru di Indonesia. Namun,
Misbahudin Azzuhri, SE., MM.,
CPHR., CSRS. mengakui bahwa Program Studi Kewirausahaan (Prodi
KWU) masih minim ketersediannya
di Indonesia. Dilihat dari segi regulasi, Kementerian Riset, Teknologi, dan
Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah memiliki nomenklatur untuk
Strata-1 (S1) KWU. Hal inilah yang
kemudian menjadi landasan Jurusan
Manajemen FEB UB untuk membuka
prodi baru yakni KWU. “Nah, ini (Nomenklatur KWU) yang menjadi peluang juga buat kita mendirikan prodi.
Jadi nomenklaturnya sudah ada, tapi
prodinya selama ini belum ada dan
yang memanfaatkan pertama kali adalah Institut Teknologi Bandung,” tutur
Misbah sebagai salah satu founder Prodi KWU Jurusan Manajemen FEB UB.
Lahirnya prodi baru ini memang
tidak instan. Proses pengajuan dilakukan dengan persiapan panjang. “Iya
kita persiapan bikin proposal itu sejak dua setengah tahun,” kenang
Misbah. Kurikulum pun dipersiapkan
matang-matang sebelum penyusunan
proposal. Setelah mengajukan proposal pada Kemenristekdikti, surat izin
pendirian prodi berhasil dikantongi
pada 20 Januari 2016 dengan Nomor
Perundang-undangan 53/KPT/I/2016.
Kemudian Prodi KWU resmi menerima mahasiswa baru pada pertengahan
2016.
Ditilik dari kesiapan pengajar,
Misbah memaparkan bahwa Prodi KWU
tak hanya terdiri dari dosen internal
manajemen yang memang berkonsentrasi pada bidang kewirausahaan saja.
“Tidak menutup kemungkinan bahwa
ada tenaga support untuk pengajaran
itu dari luar, baik pelaku wirausaha, praktisi, ataupun dosen wirausaha dari perguruan tinggi lain yang
memang sudah lama menjalankan itu,” tutur pria kelahiran Kediri ini.
Ananda Sabil Hussein, Ph.D. selaku
Ketua Prodi KWU menambahkan
bahwa tenaga pengajar atau praktisi
juga akan diambil dari alumni ataupun
asosiasi kewirausahaan. Penggunaan
tenaga pengajar eksternal ini dilakukan
demi memfasilitasi mahasiswa Prodi KWU agar dapat lebih memahami
keadaan riil yang ada di lapangan.
Praktisi akan turut dilibatkan pada kegiatan perkuliahan.
Seperti yang diungkapkan oleh
Bayu Ilham Pradana, SE., MM.,
“Jadi kita sedang merancang bahwa
nanti dalam satu semester perkuliahan
itu ada porsi untuk praktisi, ada porsi
untuk dosen.” Praktisi yang dianggap
berkompeten akan dihadirkan sesuai
kebutuhan saat perkuliahan. Di sini
mahasiswa tentu akan dimudahkan dalam bertukar pikiran serta belajar dari
pengalaman bisnis yang dimiliki para
pelaku usaha.
Prodi KWU pada tahun pertamanya berjalan dengan 62 mahasiswa
dan dibagi menjadi dua kelas. Bukan
karena sepi peminat, pembatasan kuota ini memiliki berbagai pertimbangan. Sumiati merasa di awal perintisan
tidaklah mungkin Prodi KWU bergerak
dengan jumlah mahasiswa yang banyak. Saat jumlah mahasiswa padat
di awal perjalanannya, dikhawatirkan
dapat mengancam quality insurance
dari prodi tersebut. Tak hanya itu, pertambahan mahasiswa idealnya diiringi
pula dengan infrastruktur seperti ruang kelas. “Karena ketika prodinya
meningkat, sementara infrastruktur kita
masih belum berubah secara signifikan.
Jadi tidak mungkin kita ada prodi baru,
Manajemen tetap 300 lantas nambah
jadi 375 misalnya,” ujar Misbah.
Kegiatan perkuliahan Prodi KWU
akan langsung menggunakan masyarakat sebagai laboratorium (lab).
Sabil menyatakan bahwa riset dan praktik dilakukan dengan terjun ke lapangan sehingga dapat mempersiapkan mahasiswa untuk berwirausaha. Selaras
dengan Sabil, Sumiati pun merasa bahwa lab bagi keilmuan sosial bukan
melulu berbentuk ruangan secara fisik.
“Lab untuk sosial sebenarnya tidak harus fisik, masuk ruang, atau kelas. Misal ke mall melakukan observasi, ditulis atau di-report itu sudah lab,” papar
perempuan yang hobi membaca dan
berkuliner ini.
Lantas apa yang membedakan Prodi
KWU dengan Prodi Manajemen? Terlebih sejauh ini Prodi Manajemen dirasa juga memiliki unsur kewirausahaan
dalam pembelajarannya. Sabil mengatakan bahwa Prodi KWU mengusung
tiga nilai dasar yaitu kreativitas, inovasi, dan komersialisasi. Penanaman tiga
nilai ini diberikan melalui enam mata
kuliah wajib pada tiap semester Prodi
KWU. Bayu menyatakan bahwa enam
Kompetensi (K) ini merupakan step
by step, mulai dari ide awal pada semester satu hingga bisnis ini nantinya
akan berjalan sampai pada semester
akhir. K1 merupakan Pengantar Bisnis
dan Kewirausahaan, K2: Business
Creativity, K3: Lab. Kewirausahaan-1,
K4: Business Innovation, K5: Strategi
Bisnis, dan K6: Lab. Kewirausahaan-2.
Sabil juga menuturkan bahwa K1 nantinya akan menanamkan jiwa dan pola
pikir kewirausahaan pada mahasiswa.
Kemudian pada K2 dan K3, kreativitas
mahasiswa akan diasah dengan membuat prototipe bisnis. Dilanjutkan dengan penambahan inovasi-inovasi pada
K4. Terakhir pada K5 dan K6 akan
ditanamkan nilai komersialisasi, mahasiswa akan mulai menyusun strategi dan memasarkan bisnis yang telah
disusun. Nantinya pada tahap akhir,
bisnis sudah dapat diwujudkan dengan memiliki surat izin usaha. Misbah
menambahkan, “Semester 6 mahasiswa
harus punya surat izin pendirian usaha.
Minimal bentuknya Commanditaire
Vennootschap.”
Demi terciptanya bisnis yang baik
dari kelompok mahasiswa, setiap tahap kompetensi akan dibimbing oleh
dosen yang memang berkompeten di
bidangnya. Bayu mengungkapkan bahwa dosen akan turut andil pada bisnisbisnis bentukan mahasiswanya. “Setiap dosen itu punya kompetensi yang
berbeda-beda. Jadi mahasiswa itu didampingi dengan dosen yang berkompeten di masing-masing K itu,” ulas
pria yang juga menjabat Sekretaris Jurusan Manajemen FEB UB ini.
Prodi baru ini membuka
harapan bagi mahasiswa yang selama ini mendambakan untuk
berkecimpung di dunia bisnis.
Anggit Ayu Aq Yuning Tyas sebagai
Mahasiswi Prodi KWU 2016 berharap
dapat lebih memahami bagaimana
pembentukan start up bisnis dan mempertahankannya. Bibit wirausaha ini
harus mulai ditumbuhkan dalam diri
masyarakat Indonesia. “Sekarang itu
bukan zamannya lagi kita cari kerja.
Karena kalau kita cari kerja terus, perekonomian di Indonesia gak bakal bisa
terangkat. Jadi aku memilih kewirausahaan untuk membantu meningkatkan perekonomian Indonesia,” tandas
Muhammad Yoga Sakti yang satu
kelas dengan Ayu. Sementara untuk
prospek mahasiswa, bukan berarti tak
bisa membangun karier dengan masuk
ke dalam sektor-sektor formal. Hanya
saja, mahasiswa KWU memang didesain untuk benar-benar menjadi job
creator bukannya job seeker. Sabil memaparkan bahwa nantinya mahasiswa
KWU dapat menjamah berbagai profesi, seperti sociopreneur, pendamping
bisnis, konsultan bisnis, pengajar, dan
tentunya wirausaha.
Dimuat dalam Majalah Indikator 49 http://lpmindikator.feb.ub.ac.id/?p=615
Komentar
Posting Komentar